PULIHKAN TRAUMA, ANAK-ANAK KORBAN KEBAKARAN PUNTUN DIAJAK BERMAIN

Bantuan berupa materi untuk memenuhi kebutuhan sandang, pangan dan papan serta penanganan medis adalah hal yang penting yang dapat mendukung keberlangsungan hidup para korban bencana. Namun, satu hal yang tak kalah penting adalah bantuan penanganan psikologis berupa pemulihan trauma. Demikian pula yang dirasakan oleh warga Puntun, Rindang Banua Kelurahan Pahandut pasca musibah kebakaran. Kehilangan harta benda akibat kebakaran menyebabkan rasa duka dan sedih, aktivitas keseharian mereka menjadi  terganggu dan berubah dari situasi dan rutinitas keseharian yang aman dan nyaman, akhirnya harus pindah atau mengungsi ketempat lain sementara waktu, malahan ada yang tidak bisa bersekolah, bermain dan mendapatkan istirahat yang cukup. Kondisi yang berubah secara tiba-tiba dapat menimbulkan syok, tekanan, kecemasan, bahkan trauma. Bila berkelanjutan dan tidak ditangani,  dapat berujung pada gangguan psikologis seperti depresi.

Oleh karena itu Pekerja Sosial ikut andil dalam kegiatan  pelayanan dan bimbingan psikososial bagi anak-anak korban kebakaran yang diselenggarakan Polres Palangka Raya, Ikatan Psikolog Indonesia, Emergency Respon, dan beberapa relawan lainnya kemaren sore (3/4/2019). Dalam kegiatan tersebut, sekitar 80 orang anak diajak bermain dengan beragam teknik permainan untuk mengatasi trauma anak. Antara lain bermain pasif, bermain aktif motorik halus, dan bermain aktif motorik kasar yang bertujuan agar dapat mengeluarkan perasaan sedih di alam bawah sadar mereka. Anak  diberi kesempatan untuk berbicara mengenai perasaan dan pengalaman yang mereka alami terkait dengan musibah yang dialami melalui bercerita,  menggambar, menulis, dan melakukan permainan.

Kegiatan ini terlihat sederhana, namun mampu memfasilitasi anak untuk menyuarakan perasaan dan harapannya. Bahkan ketika anak-anak ditanya apa yang mereka tidak sukai, banyak dari mereka yang menuliskan ” kebakaran”, dan ketika ditanya apa yang paling mereka sukai, seorang anak menuliskan “bermain bersama keluarga”. Di akhir kegiatan, anak-anak diberikan bantuan perlengkapan mandi dari Polres Palangka Raya.

Menurut Pekerja Sosial Ayub Daud, pihak yang paling rentan mengalami trauma akibat bencana adalah anak dan remaja. Hal ini disebabkan karena mereka belum memiliki kapasitas yang memadai dalam mengontrol emosi dan menyelesaikan masalah secara adaptif. “Kita harus peka, mungkin tampak dari luar terlihat baik, tetapi belum tentu perasaannya,  pemberian pelayanan psikologis yang intensif  bagi korban bencana dapat mencegah timbulnya depresi dan meningkatkan ketahanan  sehingga kelak mereka menjadi lebih tangguh menghadapi masalah” jelasnya lebih lanjut.

Pemulihan trauma bukanlah hal yang instan. Saat kegiatan psikososial telah dilakukan, bukan berarti semuanya telah berakhir, masih diperlukan kegiatan serupa sambil dilakukan monitoring dan  evaluasi  agar program pemulihan trauma dapat mencapai hasil yang signifikan, yaitu terwujudnya kesejahteraan psikologis pada korban bencana.(dinsos, 4/4/2019)

Tinggalkan Balasan