EKSISTENSI PENYULUH SOSIAL DI ERA DIGITAL

EKSISTENSI PENYULUH SOSIAL DI ERA DIGITAL

Oleh: Nur Lathifah S.Pd

 

Era digital adalah perkembangan masa yang sudah mengalami percepatan perubahan dari segala aspek kehidupan dari yang tadinya analog menjadi serba digital atau menggunakan teknologi. Pada era digital, kita lebih mudah dalam mendapatkan berbagai informasi melalui internet dengan dukungan gawai yang memadai.

Peluang dan tantangan pada era revolusi industri 4.0 pada saat ini adalah kecepatan kreatifitas, digitalisasi, efektivitas proses dan berita hoax. Penyuluh sosial harus mampu merespon permasalahan sosial yang ada secara cepat dan efektif. Adapun kemudahan masyarakat dalam mengakses teknologi informasi melalui internet yang seperti cekbansos.go.id. Pada aplikasi tersebut masyarakat hanya perlu memasukan nama provinsi, Kab/Kota, kecamatan, desa/kelurahan serta nama penerima manfaat. Sebuah problematika yang ditemukan dilapangan diantaranya munculnya keresahan bagi masyarakat apabila namanya muncul pada laman website akan tetapi tidak mendapatkan program yang tertera. Oleh karena itu, diperlukan pendampingan dari penyuluh sosial dan mitra jejaring kerja dalam memberikan edukasi bahwa masyarakat harus melakukan pengecekan lanjutan ke Dinas Sosial setempat terkait informasi yang didapat dari website cekbansos.go.id tersebut, hal ini juga dilakukan untuk meminimalisir kekeliruan diantaranya sebagian besar nama memiliki kesamaan dalam satu wilayah.

Beberapa hal yang dapat dilakukan penyuluh sosial dalam menghadapi era 4.0 yaitu

  1. Penyuluhan partisipatif

Menurut Undang-undang Nomor 11 tahun 2009 pasal 33 menyebutkan tenaga kesejahteraan sosial, pekerja sosial professional, relawan sosial dan penyuluh sosial sebagai sumber daya kesejahteraan sosial. Peran penyuluh sosial menjadi sangat penting untuk memulai langkah peningkatan partisipasi di masyarakat. Dalam Peraturan Menteri Sosial nomor 10 tahun 2014 pasal 2 menyebutkan penyuluhan sosial sebagai gerak dasar dan awal untuk dapat lebih memberikan kesiapan dan manfaat program bagi sasaran yang ditandai adanya peningkatan pengetahuan, adanya kepercayaan dan keyakinan akan perubahan serta kesadaran diri sasaran untuk mempunyai rasa tanggung jawab penuh terhadap diri sendiri dan masyarakat. Sementara itu partisipasi merupakan segala upaya yang dilakukan untuk melibatkan masyarakat agar berperan dalam kegiatan penyelenggaraan sosial. Konsep dasar partisipasi dapat dirumuskan bahwa partisipasi terjadi apabila ada keterlibatan mental, moral dan perasaan di dalam menggunakan segala kemampuan yang dimilikinya (Puspensos, 2019:10).

Penyuluhan partisipatif adalah bentuk kolaborasi antara penyuluh dan mitra kelurahan sebagai ujung tombak dari program pembangunan di bidang sosial. Informasi dengan memanfaatkan komunikasi digital yaitu dengan mengemas pesan materi penyuluhan. Karena itu, penyuluh harus menguasai akses komunikasi digital dan mengembangkannya kepada kelompok sasaran secara verbal serta visual. Sistem penyuluhan melalui cyber extension harus mampu mengintegrasikan media komunikasi digital dan media elektronik (media sosial dan radio) serta media komunikasi konvensional non digital melalui penguatan fungsi forum-forum media. Penerapan terknologi ini adalah untuk melakukan optimasi peningkatan hasil (kualitas dan kuantitas) dan efisiensi penggunaan sumber daya yang ada.

Selain itu, skill yang harus dikuasai penyuluh sosial di era new normal adalah penguasaan media dan teknologi hingga kemampuan komunikasi yang efektif. oleh karena itu penyuluh sosial harus harus adaptif, timbal balik terhadap informasi dan memanfaatkannya untuk kegiatan penyuluhan. Selain itu, gerakan sosial masyarakat merupakan poin penting dalam meningkatan partisipasi masyarakat akan membuahkan kesadaran masyarakat melakukan social action berupa gerakan sosial bersama dalam menanggapi, mencegah, dan mengatasi permasalahan sosial dimasyarakat

  1. Penyuluh tetap wajib kunjungan lapangan

Era kemajuan teknologi informasi dan komunikasi banyak media yang dirancang secara khusus dan dimanfaatkan sebagai proses pembelajaran/edukasi seperti Media Cetak, Televisi, Radio dan Media Sosial yang harus dimanfaatkan penyuluh sosial dalam memberikan dan menyebarkan informasi kepada kelompok sasaran mengenai program kesejahteraan sosial yang akan bermanfaat bagi 26 PPKS.

Di era digital sumber informasi, termasuk teknologi dapat dengan mudah didapatkan dari mana saja. Sumber informasi itu bisa dimanfaatkan kalangan penyuluh sosial untuk membantu masyarakat terutama 26 PPKS. Meski kini informasi mudah didapat, kunjungan lapangan masih tetap menjadi ‘jajanan wajib’ bagi penyuluh sosial, khususnya mengubah perilaku kelompok sasaran.

Tidak semua kegiatan penyuluhan bisa melalui media sosial, dikarenakan transfer teknologi memang bisa dengan media sosial atau teknologi informasi, tetapi untuk mengubah perilaku kelompok sasaran harus tetap ada kunjungan lapangan agar tujuan utama dari penyuluhan bisa tercapai. oleh karena itu, seorang penyuluh harus mempunyai kemampuan soft skill seperti public speaking dan leadership.  Jadi di era digital ini penyuluh harus bisa mengkombinasikan kemampuan hard skill dan soft skill. Artinya mengkombinasikan tatap muka dan teknologi informasi. Apalagi perubahan perilaku dan membangun pemahaman yang sama antara penyuluh dan kelompok sasaran memang perlu kombinasi.

sumber :

Undang-undang Nomor 11 tahun 2009

https://puspensos.kemensos.go.id/

http://puslit.kemsos.go.id/

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*