JAMINAN SOSIAL KESEHATAN BAGI KELUARGA TIDAK MAMPU

Miskin bukan hanya permasalahan tidak mampu secara ekonomi, tetapi lebih luas dari itu. Sehingga penanganan kemiskinan bantuan berupa materil juga harus dibarengi dengan pembinaan mental yang mandiri ke masyarakat luas. Karena sepertinya ada persepsi yang keliru dimasyarakat, dimana bantuan yang diberikan Pemerintah  adalah untuk masyarakat yang bukan pegawai negeri. 

Seperti klien yang datang hari ini, pasangan suami istri muda dengan pakaian yang bagus, memakai perhiasan,  memegang HP merek yang mahal, serta mengendarai mobil bagus dan mulus. Saat dihadapan petugas, klien menyerahkan berkas agar mendapatkan KIS gratis bagi orangtua kandungnya.

Memang, Dinas Sosial Kota Palangka Raya menyelenggarakan pelayanan pemberian rekomendasi bagi keluarga tidak mampu untuk mendapatkan jaminan kesehatan dengan iuran yang dibayarkan oleh Pemerintah baik Pusat maupun Kota. Syarat untuk mendapatkan jaminan kesehatan penerima bantuan iuran adalah dengan membawa fotocopy KTP, Kartu Keluarga, serta Surat Keterangan Tidak Mampu dari RT, RW, Lurah.

Melihat klien yang datang seperti itu, seringkali petugas meragukan kategori kemiskinan klien, tapi mau bagaimana lagi, Dinas Sosial tidak memiliki anggaran dan petugas yang cukup untuk kembali memverifikasi dan memvalidasi surat keterangan yang telah dibuat oleh Ketua RT dan Lurah.

Justru orang-orang yang memerlukan bantuan, banyak yang tidak tersentuh dan tidak pernah mengurus kepentingannya, kebanyakan mereka terkendala dengan legalitas kependudukan, serta ketidak tahuan cara mengurusnya. Padahal  dalam setiap kesempatan Dinas Sosial telah mensosialisasikan kriteria keluarga tidak mampu kepada Ketua RT, Tokoh Masyarakat maupun pihak Kelurahan serta meminta untuk melapor ke Dinas Sosial jika ada warganya yang sangat memerlukan bantuan. 

Dalam kasus tersebut, sepertinya suatu kesengajaan membiarkan orang tua kandung dianggap tidak mampu atau miskin sementara anaknya hidup berkecukupan. Padahal jika orangtua dan anak yang sudah berumah tangga masih dalam satu rumah, bukankah sudah selayaknya orangtua menjadi tanggungan anak ?

“Parahnya lagi dalam kasus lain yang serupa setelah si orangtua mendapatkan KIS dan kemudian sakit rawap inap di rumah sakit, si anak protes karena orangtuanya mendapatkan perawatan kelas tiga atau bangsal dan minta pindah ke ruangan VIP serta bersedia membayar selisih biaya kamar ” ungkap salah satu petugas.  Sesuai peraturan BPJS hal tersebut tidak dimungkinkan,  logika nya dengan bisa membayar kamar yang VIP berarti bukan termasuk kategori miskin. Bisa  pindah kelas perawatan, tetapi kepesertaan BPJS PBI nya di cabut dan harus bayar secara mandiri.  

Mengaku miskin merupakan bentuk ketidak bersyukuran kita terhadap yang diberikan Tuhan. Ketika kita yang bukan kategori miskin mengaku miskin, karena hanya ingin mendapatkan bantuan sosial yang bukanlah hak kita.. sama halnya dengan berdoa dan menginginkan hidup kita miskin. 

Jika orang tua kaya anaknya pasti jadi raja, namun tatkala anak yang kaya, maka orangtuanya belum tentu…

Mari kita peduli dengan sesama.. dengan tidak mengambil bantuan sosial yang bukan hak kita.. itu sudah membantu mereka yang memang membutuhkan

Tinggalkan Balasan