PROGRAM KUBE BERDAYAKAN MASYARAKAT MISKIN MELALUI WIRAUSAHA SOSIAL

Kelompok Usaha Bersama (KUBE) merupakan kelompok keluarga miskin yang dibentuk, tumbuh, dan berkembang atas prakarsanya dalam melaksanakan Usaha Ekonomi Produktif (UEP) untuk meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan sosial keluarga. Usaha Ekonomi Produktif (UEP) adalah bantuan sosial yang diberikan kepada kelompok usaha bersama untuk meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan sosial keluarga. KUBE beranggotakan 5 sampai 20 Kepala Keluarga dari masyarakat miskin yang masuk dalam Data Terpadu Penanganan Fakir Miskin dan Orang Tidak Mampu (DTPFMOTM). Keluarga fakir miskin/miskin dan masuk dalam Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS), berusia 18-59 tahun dan/ sudah menikah, Berdomisili dekat dan berdekatan, memiliki potensi dan ketrampilan di bidang KUBE, memiliki Kartu Tanda Penduduk dan Kartu Keluarga

Tujuan dari terbentuknya program Kube, antara lain meningkatkan kesejahteraan anggota, menambah wawasan dan keterampilan anggota, menumbuhkan kesadaran masyarakat miskin pentingnya membangun usaha bersama demi kepentingan anggota, menumbuh kembangkan rasa percaya diri bahwa warga miskin dan dapat hidup layak melalui usaha yang digagas bersama dan dijalankan bersama secara adil dan proporsional dan meningkatkan pendapatan warga miskin melalui usaha  yang dikelola secara bersama-sama. Berusaha menjadi kelompok yang dapat diandalkan dan menjadi tumpuan hidup bagi para anggota. Asas adil dan proporsional yang dimaksud adalah adil dalam pembagian tugas di dalam kelompok, adil dalam pembagian hasil kelompok sesuai dengan musyawarah kelompok.

Salah satu kelompok KUBE di Kota Palangka Raya yaitu Kube Mawar yang beralamatkan di Jalan Mangku Raya No 5 Kelurahan Kereng Bangkirai Kecamatan Sebangau Kota Palangka Raya menjalankan jenis usaha pembesaran ikan Patin. KUBE ini beranggotakan 10 orang ibu-ibu yang masuk ke dalam data terpadu kesejahteraan social (DTKS).

KUBE  Mawar diketuai oleh Heldawati, Sekretaris Ina dan Bendahara Saliwati. KUBE yang dibentuk tahun 2019 saat ini sudah berkembang cukup pesat, terhitung sudah 4x panen ikan Patin. Usaha pembesaran Ikan patin dipilih karena mayoritas penduduk di Kelurahan Kereng Bangkirai berprofesi sebagai nelayan. Kemampuan masyarakat dalam memelihara dan mengolah ikan sesuai dengan kesepakatan kelompok dalam memberikan pakan dan membersihkan kolam anggota kube bergantian sesuai jadwal yang telah dibsepakati bersama. Metode pemasaran yang dilakukan yaitu dengan menjual ke pengepul pengelola taman pancing dan rumah makan di kawasan wisata Kereng Bangkirai. Sebagian ikan mereka olah dengan cara di asap/sehei. Metode pengasapan dipilih agar ikan bisa bertahan lama. Hasil pengolahan ini juga bisa menjadi oleh-oleh khas wisata Kereng Bangkirai.

Gb. 2 Metode pengasapan patin sehei

Modal usaha yang diberikan Kementerian Sosial RI melalui Direktorat Penanganan Fakir Miskin kepada setiap kelompok sebesar Rp 20 juta rupiah.  Setelah 1 tahun berlangsung, KUBE ini menjadi penyuplay tetap rumah makan dan kolam pemancingan di wilayah wisata Kereng Bangkirai yang dikelola Bapak Nurdin. “adanya KUBE ini bermanfaat sekali, khususnya kami para ibu-ibu memiliki pekerjaan dan kesibukan. Bisa untuk membiayai anak sekolah dan kebutuhan sehari-hari” kata Heldawati selaku ketua KUBE Mawar. KUBE Mawar merupakan salah satu KUBE yang berhasil dari ratusan KUBE yang ada di kota Palangka Raya. Kreatifitas diperlukan agar KUBE mampu bersaing dengan dunia usaha yang lain. Seperti branding produk sebagai oleh-oleh khas Palangka Raya, pemasaran melalui media social instagram, facebook dan e-market. Jangkauan yang lebih luas bisa membuat usaha semakin maju dan kesejahteraan anggota semakin baik. Disinilah keunikan program bantuan usaha KUBE dengan usaha lain nya, selain berorientasi ekonomi juga memiliki aspek social yang tinggi di masyarakat. Harapan yang lebih luas, keberadaan KUBE ini bisa memiliki dampak positif bagi lingkungan di sekitarnya yaitu jumlah pengangguran berkurang.

4 aspek utama KUBE

Aspek Sosial

KUBE merupakan wadah  saling membantu sesama anggota baik dalam keadaan suka maupun duka  dengan berpedoman dengan semboyan: “Saling peduli dan tolong-menolong sesama anggota”. Manfaat utama KUBE bagi anggota adalah membangun kesetiakawanan dan solidaritas antaranggota kube. Hal ini ditandai dengan adanya Iuran Kesetiakawanan Sosial (IKS) dalam kelompok bisa menjadi sarana untuk mewujudkan kepedulian antar sesama anggota KUBE. IKS ini bisa dimanfaatkan oleh anggota KUBE untuk membantu anggota KUBE lain apabila sakit ataupun membeli atribut identitas kelompok seperti kaos dll sesuai kesepakatan kelompok. Kube juga memberikan pemahaman bagi setiap individu mengenai interaksi sosial sesama anggota Kube itu sendiri sebagai ajang untuk berorganisasi antara satu dengan anggota yang lain dalam satu organisasi kube.

  1. Aspek Ekonomi
  2. Kube merupakan wadah  berusaha dengan menerapkan prinsip ekonomi demi meningkatkan Kesejahteraan  anggota agar keluar dari lingkaran kemiskinan.

  • Aspek Pendidikan

Kube merupakan wadah belajar usaha dan saling tukar pengalaman sesama anggota dengan prinsip saling mendukung, dan tolong menolong sesama anggota.

  • Aspek Pasar

Kube dalam melaksanakan kegiatannya selalu berorientasi pada pasar baik barang yang akan dijual ataupun harga menjadi pertimbangan dalam menjalankan usahanya.

  • Manfaat Program KUBE

Manfaat bagi anggota

Manfaat Kube bagi anggota antara lain: Pertama, sebagai wadah aktualisasi diri terhadap lembaga usaha bersama secara kolektif mengangkat derajat sesama anggota; Kedua, kube sebagai media pembelajaran secara ekonomi baik secara individu maupun berkelompok; Ketiga, Kube memberikan pemahaman bagi setiap individu mengenai interaksi sosial sesama anggota Kube itu sendiri; Keempat, sebagai ajang untuk berorganisasi antara satu dengan anggota yang lain dalam satu organisasi kube; Kelima, memahami kerangka kerja administratif pengelolaan dan manajemen kube; Keenam, membangun kesetiakawanan dan solidaritas antaranggota kube

Manfaat Kube bagi Masyarakat

Manfaat kube bagi masyarakat sekitar meskipun tidak dapat dilihat secara langsung tetapi keberadaan kube di lingkungan masyarakat tersebut memiliki arti penting yaitu sebagai sebuah pranata yang secara sosial dan ekonomi mengupayakan sebuah kebersamaan, terbingkai dalam kolektivitas kerja sosial demi meningkatkan kesejahteraan secara berkelompok melalui kube. Beberapa manfaat kube bagi masyarakat meliputi: Pertama, terdapatnya manfaat sosial kelembagaan secara kelompok bagi Fakir Miskin yang memberdayakan Kelompok fakir miskin tersebut. Kedua, semakin berkembangnya dinamika kehidupan masyarakat khususnya bagi kelompok masyarakat yang tergolong kurang mampu; Ketiga, kube dalam masyarakat menjadi penguat jaringan kerja bagi kelompok fakir miskin; Keempat, kube sebagai bagian dari area publik bagi fakir miskin dalam mengakses sumber sumber potensi kesejahteraan sosial; Kelima, kube sebagai ornamen motivator bagi kelompok fakir miskin untuk membentuk kekuatan ekonomi dan sosial demi kesejahteraan masyarakat secara umum karena kaum fakir miskin merupakan bagian dari sebuah komunitas yang perlu diberdayakan; Keenam, kube dapat diharapkan menjadi bagian dari pranata sosial masyarakat untuk dijadikan acuan kelompok bersama secara ekonomi dalam menentukan dan meningkatkan kesejahteraan sosial.

  • Faktor Pendukung dan Penghambat Pelaksanaan Kube

Faktor yang menjadi pendukung akan keberhasilan usaha kesejahteraan sosial keluarga miskin melalui program Kube, yakni semangat anggota kelompok yang cukup tinggi dalam upaya peningkatan kesejahteraan sosial melalui program Kube, seperti keaktifan anggota Kube dalam mengadakan kegiatan rutin, kedisiplinan anggota kube dalam pengelolaan administrasi dan keuangan serta penambahan sarana dan prasarana untuk menunjang kegiatan; Kuatnya rasa ikatan persaudaraan di antara anggota kube (tercermin dari sikap saling membantu, tolongmenolong, gotong royong, dan kerja sama yang baik). Semangat kerja sama dan gotong royong tersebut dapat dilihat dari semakin tingginya tingkat kepercayaan masyarakat kepada kelompok, yang diwujudkan dalam bentuk keikutsertaan masyarakat dalam kegiatan kelompok, seperti arisan dan simpan pinjam; Adanya pendampingan sosial yang selalu berusaha menjalin relasi sosial diantara pendamping,anggota kube dan masyarakat dalam memecahkan masalah, memperkuat akses dan mendayagunakan potensi dan sumber kesejahteraan sosial; Masih tingginya minat masyarakat miskin untuk dapat berkembang bersama dalam program Kube; Interaksi sosial yang tinggi atas dasar kesamaan visi dan pandangan untuk mengubah kehidupan yang lebih baik;

Terdapatnya sistem atau jaringan kerja kelembagaan serta keberfungsian pendamping dalam mengarahkan dan membimbing kube sehingga kinerja kube meningkat di masa mendatang

Factor penghambat program KUBE sebagai pengentasan kemiskinan yaitu :

Pertama, rendahnya tingkat pendidikan anggota kelompok, yang menyebabkan kemampuan untuk pengelolaan kube relatif kurang, mengakibatkan usaha yang dilakukannya kurang bisa berkembang secara optimal.

Kedua, terbatasnya kemampuan diversifikasi usaha, kelompok terbiasa dalam kondisi sebelumnya dan tidak berani berspekulasi untuk membuka usaha yang baru.

Ketiga, rendahnya mobilitas yang menyebabkan sempitnya pemasaran hasil usaha, kondisi ini merupakan penyebab kecilnya daya serap dana bantuan secara maksimal. Dana bantuan yang diperoleh cenderung dimanfaatkan untuk keperluan konsumtif dibanding usaha produktif.

Keempat. kurangnya keterbukaan antar pengurus dan anggota kube dalam mengelola usaha bersama yang pada akhirnya mendorong terjadinya rendahnya partisipasi dan semangat kebersamaan di antara para anggota kube dan kurang kondusifnya iklim kerja di kelompok.

Kelima, proses pembentukan kube yang relatif lemah dalam asessmen, sehingga kegiatan kube kadang tidak berdasarkan kebutuhan riil anggota kube dan tidak sepenuhnya diawali dengan pemberian kegiatan bimbingan penyuluhan sosial, pelatihan manajemen usaha, UEP, IKS dan UKS. Muatan kegiatan lebih banyak bermaterikan tertib administrasi organisasi. Kesembilan, kelemahan anggota kube dalam merencanakan program kegiatan usaha, manajemen organisasi, dan rendahnya kemampuan mendistribusikan hasil produksi kube ke berbagai institusi ekonomi sebagai akibat dari lemahnya kemampuan menjalin relasi kerja (networking).

Keenam, sistem kerja kelompok yang belum tertata dengan baik ditingkat internal dan anggota belum secara penuh dilibatkan dalam setiap kegiatan.

Ketujuh, menejemen pengelolaan dan sistem pengadministrasian kube yang relatif masih sederhana, meskipun di beberapa kube telah ada sistem yang relatif baik.

Penulis : Nur Lathifah

Sumber : https://kemensos.go.id/kube

Tinggalkan Balasan